Jalan-Jalan ke Desa Bulo-Bulo, Barru


Desa Bulo-Bulo

Desa Bulo-Bulo

Nur ketika pertama kali kutemui di rumah kepala desa.

Nur ketika pertama kali kutemui di rumah kepala desa.

Nurlela, 9 tahun, terlahir dengan keunikan kulit.

Nurlela, 9 tahun, terlahir dengan keunikan kulit.

Nurlela, ketika hendak menuju rumahnya, kami melewati jembatan kayu ini. Di bawahnya adalah sungai dari aliran air terjun di sekitar Desa Bulo-Bulo.

Nurlela, ketika hendak menuju rumahnya, kami melewati jembatan kayu ini. Di bawahnya adalah sungai dari aliran air terjun di sekitar Desa Bulo-Bulo.

Nuru', ketika akan menuju ke ladang mengambil tuak manis bahan utama untuk membuat gula merah.

Nuru’, ketika akan menuju ke ladang mengambil tuak manis bahan utama untuk membuat gula merah.

Ibu Nur, dia membesarkan 5 orang anak. 3 diantaranya berkulit belang. Dia jugalah yang pagi-pagi sekali menuju ke pasar terdekat untuk menjual gula merah.

Ibu Nur, dia membesarkan 5 orang anak. 3 diantaranya berkulit belang. Dia jugalah yang pagi-pagi sekali menuju ke pasar terdekat untuk menjual gula merah.

Nur dan teman sekolahnya berangkat ke sekolah. Dengan alas kaki yang seadanya, Nur, berjalan kaki setiap hari melalui jalan berbatu ini.

Nur dan temannya berangkat ke sekolah. Dengan alas kaki yang seadanya, Nur, berjalan kaki setiap hari melalui jalan berbatu ini.

Bangun dengan bahu kiri yang terkilir di pagi yang benar-benar tidak biasa di Desa Bulo-Bulo.

Pada Jumat, 28/11 tahun lalu, saya dan Eko menyusuri pelosok desa di Kabupaten Barru dengan sepeda motor. Jika ingin dikira-kira, jaraknya barangkali hampir 200 kilometer dari Makassar sudah terhitung dengan jalan ke pelosoknya. Perjalanan dari Makassar ke Kota Barru cukup nyaman. Melewati jalan beton yang masih baru sepanjang 95 kilometer lebih kurangnya. Dan, tak perlu khawatir, ada banyak sekali yang menjajakan jajanan tradisional hingga modern sepanjang perjalanan.

Kami singgah di sebuah warung karena hujan deras tiba-tiba turun. Kami mengambil kesempatan untuk mengobrol panjang lebar di sebuah kedai menunggu hujan reda, juga mencari tahu di mana persisnya desa yang ingin dituju. Kami mencari mereka dari perbincangan lepas sampai artikel-artikel di media cetak maupun online yang pernah kami baca.

Kami tiba di Kota Barru ketika hari telah malam, mencari penginapan untuk bermalam sebelum berangkat ke desa yang dimaksud keesokannya. Kami bermaksud menemui, yang—katanya—adalah—suku terasing. Orang-orang berkulit belang atau yang termahsyur dengan nama To Balo.

Rutenya menuju Desa Gattareng, Desa yang kami datangi karena beberapa tulisan mengatakan, bahwa, “To Balo” memiliki sebuah tarian khas. Tari Se’re Api namanya. Tari Se’re Api ini ditarikan oleh para lelaki. Mereka menari di atas bara api tanpa menggunakan alas kaki sebagai ekspresi bersyukur jika tiba musim panen. Tari Se’re Api ini lahir di Desa Gattareng.

Menuju Desa Gattareng harus melewati jalan menanjak dan menurun yang terjal. Semakin disulitkan karena jalanan dibangun menggunakan batu kali yang lepas-lepas. Jika sudah musim hujan begini, sebagian jalan berbatu itu tertutupi lumpur dari tanah merah. Ditambah lagi desa ini berada hampir di puncak gunung, kabut yang cukup tebal tentu saja jadi bonus yang harus diterima. Kami tiba sekitar jam 2 siang di Desa Gattareng dan langsung ke rumah kepala desa. Tapi, kepala desa sedang tidak berada di rumah. Dia sedang mengontrol sebuah kerja bakti masyarakat dusun tak jauh dari rumahnya. Jadilah kami menunggu sekitar 1 jam lalu akhirnya bisa bertemu dengan kepala desa.

Setelah dijamu makan siang dan minuman hangat, kami mulai berbincang dengan kepala desa, Bapak Andi Syahrir. Melalui keterangan darinya, kami mendapati fakta bahwa, orang belang tak bisa menari Se’re Api. Dibuktikan dengan tak adanya orang belang yang bermukim di Desa ini. Kemudian Pak Syahrir menjelaskan lebih detail lagi mengenai Tarian Se’re Api dan bagaimana serta di mana kami bisa menemui orang-orang belang ini.

Sudah jam 4 sore, kami tak mau menghabiskan waktu berlama-lama di Desa Gattareng. Setelah diberitahu arah oleh Kepala Desa, kami meninggalkan Desa Gattareng saat itu juga menuju Desa Bulo-Bulo, desa dimana orang-orang belang ini sebenarnya bermukim. Desa yang jaraknya sekitar 4 jam lagi dari Desa Gattareng. Dan, jalan menuju Desa Bulo-Bulo pun tak jauh berbeda bentuknya dengan jalan ke Desa Gattareng. Masih dengan batuan kali, cuma sudah tak ada lagi kabut tebal yang menghalangi pandangan. Dusun demi dusun dan beberapa jembatan kecil yang di bawahnya adalah sungai kecil yang katanya berasal dari beberapa air terjun di sekitar situ. Jika jalanannya bagus atau naik kendaraan yang didesain khusus untuk medan berbatu, waktu tempuh bisa terpangkas banyak.

Lewat jam 7 malam kami tiba di Desa Bulo-Bulo, Dusun Labaka, Kabupaten Barru. Jika mengikuti petunjuk dari kepala desa Gattareng, seharusnya kami berhenti di rumah Kepala Desa Bulo-Bulo, tapi, di tengah perjalanan ketika mengisi bahan bakar di sebuah bengkel kecil, kami diberi sebuah nama alternatif oleh penduduk karena rumah Kepala Desa yang dimaksud masih terlalu jauh. Kami mempertimbangkan nama itu mengingat kami benar-benar kelelahan karena kondisi jalanan.

Kami tiba di rumah Pak Ali, kepala dusun Palampang yang rumahnya berada di tengah-tengah dusun Labaka setelah melalui proses bertanya ke beberapa orang. Tata kramanya, kami lalu memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan kami sembari meminta izin untuk menginap beberapa hari. Pak Ali tidak keberatan dan mengijinkan, sebab, kebiasaannya memang menerima tamu jika ada yang ingin menemui orang-orang belang ini. Anggota keluarga Pak Ali sendiri ada 7 orang. 1 istri, 4 orang anak yang masih kecil dan seorang ibu mertua yang membantu mengurus keluarga.

Desas-desusnya, orang-orang belang ini cukup tertutup dengan orang asing. Jadi, Pak Ali kami minta untuk menjadi penghubung dengan orang-orang belang ini dan dia menyanggupinya. Pak Ali berjanji untuk mempertemukan kami dengan orang-orang ini keesokan harinya, sepulang orang-orang desa dari mengambil bantuan pemerintah terkait harga BBM yang telah dinaikkan. Lalu, Pak Ali mengijinkan kami istirahat.

Keesokannya, sambil menunggu orang-orang desa kembali, kami menyempatkan jalan-jalan keliling dusun. Menikmati air sungai lalu mencari warung yang menjual kopi. Cukup susah untuk mendapatkan kopi di sini. Orang-orang menjamu tamu dengan teh. Kami melihat sebuah bengkel kecil yang menjual beberapa jajanan dan terlihat lebih bagus dari beberapa warung di sekitarnya. Kami masuk dan di situ memang menjual kopi. Kopi yang digiling bersama dengan beras.

Di situlah kami berkenalan dengan Pak Sakaruddin. Dia adalah kepala sekolah dua sekolah dasar di Desa Bulo-Bulo ini. Dia datang di hari minggu itu membawa beberapa kaleng cat tembok untuk renovasi sekolah. Pak Sakaruddin tinggal cukup jauh dari Desa Bulo-Bulo. Untuk menghemat biaya, dia tinggal di Desa ini dari Senin-Jumat menumpang di rumah siapa saja. “Orang-orang di sini baik, semua sudah seperti saudara dan orangtuaku”, katanya. Kemudian dari dia, kami mendapat informasi bahwa di sekolahnya, ada seorang anak perempuan dari orang-orang belang ini yang menjadi muridnya. Kemudian dia bercerita sedikit tentang kehidupan orang-orang belang ini di masa sekarang.

Sudah hampir sore di hari Minggu itu. Sedikit demi sedikit terlihat warga desa sudah kembali. Di antara beberapa warga, kami belum melihat satupun dari orang-orang belang ini. Kami akhirnya memutuskan untuk pulang dulu ke rumah Pak Dusun. Sekitar jam 4 sore, saya berpindah ke halaman depan dari halaman belakang dan mendapati 4 orang perempuan yang usianya hampir sama, 9 tahun, belajar mengaji. Dari 4 orang anak perempuan itu, ternyata salah satunya adalah anak perempuan yang dimaksud oleh kepala sekolah tadi. Ternyata rumah Pak Ali dijadikan juga sebagai tempat belajar mengaji untuk anak-anak setempat.

Ibu dusun, istri Pak Ali, memperkenalkan saya dengannya. Namanya Nurlela, dipanggil Nur oleh orang-orang di kampung. Perempuan pemalu atau jika bisa kusimpulkan dari gerak-geriknya, sepertinya dia tidak nyaman bertemu dengan kami. Saya berinisiatif untuk membeli beberapa makanan ringan buat mereka biar bisa menghilangkan rasa canggung anak itu. Saya maklum, karena sejak tahun 70-an, mereka hidup dengan pandangan aneh-aneh dari orang yang tidak mengenal mereka. Tentu saja mereka merasa tidak nyaman dengan orang asing. Jangankan dengan orang asing, mereka bahkan sangat jarang berkumpul dengan orang-orang di desa itu. Setelah Nur terbujuk karena dibantu oleh Ibu Dusun, Nur bersedia mengajak kami ke rumahnya.

Jam 5 sore, dari rumah Pak Dusun, kami menuju ke rumah Nur. Setengah jam dengan berjalan kaki menuruni jalan setapak yang licin karena becek. Tiba di rumah Nur, kami langsung berkenalan dengan orang tuanya. Ternyata, kedatangan kami sudah dinantikan oleh ayahnya. Pak Ali sudah memberitahu ayah Si Nur ketika menumpang di mobil butut milik Pak Ali untuk mengambil bantuan pemerintah yang kusebutkan tadi.

Hujan mulai turun, ayah Nur belum bisa menemani kami karena masih harus mengambil tuak manis untuk dijadikan bahan membuat gula merah. Selain bertani, penghasilan lain orang-orang di desa ini dari menjual gula merah. Tiap hari, ibu-ibu harus berjalan kaki empat jam pulang—pergi menuju pasar terdekat dari desa ini untuk menjualnya ke pemesan. Jadilah kami cuma ditemani oleh istri dan anak pertama Bapak Nuru’, nama ayah Nur. Kami memperbincangkan banyak hal, dari kehidupan mereka sekarang hingga alasan kenapa Ra’da atau Aldi, anak pertama Bapak Nuru’ ini memutuskan untuk berhenti sekolah di Makassar dan tidak mau lagi melanjutkan pendidikannya dan memilih untuk menikah saja.

Sore sudah hampir tandas, Bapak Nuru’ datang dari mengambil tuak manis. Menyisihkan sedikit buat kami minum, sisanya dipakai untuk membuat gula. Perbincangan berlanjut dengan Bapak Nuru’. Kami memintanya untuk bercerita mengenai kelompoknya ini dan bagaimana pemerintah memperlakukan mereka. Kata Bapak Nuru’, sekarang mereka ini hanya tersisa 5 orang. 4 orang tinggal bersamanya dan seorang lagi, perempuan tua dan berkeluarga, tinggal beberapa meter dari rumahnya. Perbincangan terpotong karena Nur memanggil untuk makan malam. Hanya ada satu lampu pelita sebagai penerangan. Kami, membantu sedikit pencahayaan dengan lampu dari telepon selular hingga daya baterainya habis. Di dapur telah siap hidangan makan malam yang sangat sederhana. Nasi putih, sayur yang entah apa namanya dan mi instan. Jika boleh berkesimpulan, mi instan adalah makanan paling enak dan mewah untuk disajikan kepada tamu di desa ini. Di rumah kepala dusun pun hampir sama, cuma, kepala dusun masih menyediakan ikan asin atau telur sebagai lauknya.

Setelah makan malam, kami berpindah lagi ke teras rumah panggung yang sederhana itu. Rumah panggung ini cukup lapang walau hanya memiliki dua ruangan. Dapur dan ruang tamu yang sekaligus dijadikan ruang tidur. Sejak tiba di rumah Nur, kami sudah meminta untuk bisa menginap semalam di sini. Dari dalam kegelapan terdengar suara orang sedang membersihkan ruang tamu. Kami masih ngobrol santai dengan Bapak Nuru’ sambil menghisap beberapa batang rokok yang ditemani suara-suara binatang hingga mata kami mulai lelah. Kami boleh menempati ruang tamu untuk tidur. Beralas tikar dan sarung untuk menghalau dingin yang masuk dari celah-celah papan. Meski begitu, kami tetap kedinginan dan sulit terpejam karena tidak terbiasa tidur beralas tikar dan papan saja.

Pagi-pagi sekali kami sudah tidak mendapati Ayah dan Ibu Nur. Mereka sudah memulai aktifitasnya. Tersisa cuma Nur dan saudara-saudaranya. Nur, bahkan sudah mengenakan pakaian putih-merahnya bersiap berangkat ke sekolah. Tanpa basa-basi karena kesiangan (jam 6 pagi), kami berangkat pulang ke rumah kepala dusun beriringan dengan Nur. Waktu tempuh dari rumah Nur ke sekolahnya sekitar satu jam dengan berjalan kaki. Nur sudah kelas 5 SD. Dia bersekolah dengan sangat sederhana. Memakai tas berwarna biru yang sudah tua dan dengan satu-satunya alas kaki yang dia punya, sandal jepit berwarna merah.

Setelah sampai di rumah kepala dusun, kami berpisah dengan Nur dan dua orang kawannya. Kami berencana menyusulnya ke sekolah setelah kami selesai berkemas karena kami menjadwalkan pulang hari itu juga (Senin, 1/12). Tapi, karena kondisi bahu saya yang terkilir, saya sudah tidak sanggup untuk jalan kaki melewati jalan berbatu menanjak dengan tas yang cukup berat dan besar, meski telah mencoba beberapa kilometer. Cukup sampai di sini saja dan memutuskan pulang kembali ke Kota Barru dan tidak sempat berpamitan kepada Nur dan keluarganya.

Cerita tentang orang belang ini lengkapnya bisa kalian baca http://www.mongabay.co.id/2014/12/29/inilah-kisah-komunitas-to-bentong/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s