Merangkum Pakarena (1)


 

Salah seorang penari Pakarena yang istirahat setelah mementaskan beberapa babak dari tarian Pakarena.

Salah seorang penari Pakarena beristirahat setelah mementaskan beberapa babak dari tarian Pakarena.

Sanggar Alam milik Serang Dakko sedang mementaskan tarian Pakarena pada hajatan sunatan cucunya 2 tahun lalu.

Sanggar Alam milik Serang Dakko sedang mementaskan Pakarena pada hajatan sunatan cucunya sekitar 2 tahun lalu.

Cucu Daeng Serang yang sudah mulai diajari untuk memukul gendang.

Cucu Daeng Serang yang sudah mulai diajari untuk memainkan gendang.

Daeng Serang Dakko ketika menikmati suasana di Kawasan Benteng Somba Opi.

Daeng Serang Dakko ketika menikmati suasana di Kawasan Benteng Somba Opu.

Daeng Basri B. Sila, ketika mengajar di Sanggar Batara Gowa yang dia kelola dengan Istrinya, Andi Ummu Tunru.

Daeng Basri B. Sila, ketika mengajar di Sanggar Batara Gowa yang dia kelola dengan Istrinya, Andi Ummu Tunru.

Andi Ummu Tunru yang begitu bersemangat mengajarkan Tari Pakarena di Sanggar Batara Gowa beberapa bulan lalu.

Andi Ummu Tunru yang masih bersemangat mengajarkan Tari Pakarena di Sanggar Batara Gowa beberapa bulan lalu.

Andi Ummu Tunru memperhatikan dan mengoreksi gerakan murid-muridnya di Sanggar Batara Gowa.

Andi Ummu Tunru memperhatikan dan mengoreksi gerakan murid-muridnya di Sanggar Batara Gowa.

Hj. Andi Mastulen Karaeng Lalang Opu, ketika bercerita tentang bagaimana dia membangkitkan Pakarena di Selayar setelah masa pemurnian agama berlalu di tahun 1970.

Hj. Andi Mastulen Karaeng Lalang Opu, ketika bercerita tentang bagaimana dia membangkitkan Pakarena di Selayar setelah masa pemurnian agama berlalu di tahun 1970.

Tari Pakarena bermula dari salah satu tarian istana yang bernama “Sere Jaga”. Tarian ini merupakan bagian dari upacara ritual sebelum dan sesudah menanam padi. Penari “Sere Jaga” memegang benih padi pilihan yang telah diritualkan dan mereka menari semalam suntuk. Seiring perkembangan, tarian ini berubah bentuk dalam penyajian, padi yang dipegang diganti menjadi kipas. (mengutip Halilintar Latif dalam Laporan Penelitian “Tari Pakarena, Sebagai Sebuah Tanda Budaya Orang Makassar”, Shaifuddin Bahrum).

Konon, tidak ada yang tahu kapan, di mana dan siapa pencipta Tari Pakarena hingga para pengamat serta seniman pelaku tarian ini “menyimpulkan” di Agustus 1980 lalu pada sebuah acara sarasehan di Makassar kalau Tari Pakarena sudah ada sejak jaman kejayaan kerajaan Makassar, bahkan, diprediksi sejak To Manurung sudah tidak lagi berada di tengah-tengah orang Makassar. To Manurung, di tengah-tengah orang Makassar mengajarkan banyak hal mengenai kehidupan, misal bercocok tanam, beternak, menangkap ikan, mengurus rumah tangga, hidup bermasyarakat dan lainnya sehingga membuat orang Makassar terkesan. Maka, untuk mengenang beliau, orang Makassar membuat gerak yang menirukan pengajaran dan prilakunya di tiap-tiap acara ritual di Kerajaan Gowa.

Pada masa pemerintahan Raja Gowa ke 16, Sultan Hasanuddin, Tari Pakarena begitu terjaga di lingkungan Istana. Itu dibuktikan karena Ibunya, I Liqmotakontu yang menyiapkan dan menangani langsung para penari tiap digelarnya hajatan atau ritual adat kemudian dilanjutkan oleh permaisuri-permaisurinya. Tarian ini pun menjadi wajib digelar untuk memberi penghormatan kepada arwah para leluhur.

Pakarena akhirnya mengalami pasang surut akibat gejolak politik di Sulawesi Selatan, khususnya di Kerajaan Gowa. Penjajahan Belanda hingga Jepang kala itu membuat kondisi masyarakat tidak menentu dan kapan saja terancam ketika harus menggelar hajatan atau ritual adat. Terlebih pasca kemerdekaan tahun 1946-1947 lalu disusul kerusuhan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) pimpinan Kahar Muzakkar (1953-1960an) yang mengacu pada pemurnian ajaran Islam dan menghancurkan kebudayaan berbau musyrik.

Namun, sekelompok pemuda yang menamakan diri Organisasi Seni Budaya Mangkasara dan dipimpin oleh Fachruddin Daeng Romo di tahun 1951 memulai berbagai gerakan untuk membangkitkan lagi kebudayaan Makassar khususnya membangunkan Pakarena dari mati surinya. Tapi, Pakarena bukan lagi dilihat sebagai ritual melainkan seni untuk menghibur. Meski barangkali semua tahu kalau para penari dan pemain gendang Pakarena merupakan keturunan atau masih punya hubungan darah dengan para raja yang membuat Pakarena menjadi sakral dan membuatnya tak terpisahkan oleh ritual adat kerajaan.

Kebangkitan Pakarena dari Makassar hingga Kepulauan Selayar mempunyai masa dan pelakunya sendiri-sendiri. Mereka, mengakui kalau Tari Pakarena sebagai identitas walau direpresentasikan secara berbeda-beda. Meski begitu, tetap dapat ditemukan kesamaan pada tiap-tiap tarian Pakarena. Di Makassar, Pakarena secara tradisional terdiri atas 12 ragam gerak, sedang di Buluq Tana, Malino, hanya mewarisi 5 ragam. Tiap ragamnya ditandai dengan adanya nyanyian (royong) yang dinyanyikan oleh penari dan pemusik.

Di masa sekarang terlebih di kota, kita dapat menjumpai Pakarena di pentaskan di atas panggung bebas dan gerakannya menjadi begitu variatif dan dinamis. Kalau ingin melihat gerakan serta pola pementasan yang lebih orisinil biasanya hanya di kampung-kampung. Sanggar milik Mak Cidda di Buluq Tana, Malino, salah satu contoh yang masih mementaskan dan mempertahankan keaslian dari gerakan Tari Pakarena, sayang mereka hanya mewarisi 5 ragam gerak.

Tiap properti yang digunakan baik selendang sampai kipas serta gerakan anggota tubuh penari ketika menari mempunyai arti-arti khusus. Andi Ummu Tunru, salah satu maestro Tari Pakarena, mengatakan, gerakan pada Tari Pakarena sebenarnya merupakan ajaran untuk perempuan khususnya perempuan Sulawesi Selatan agar kuat dan tegar dalam menghadapi pelbagai masalah dan persoalan hidup. Itu menjadi penjelasan kenapa hanya perempuan yang boleh menarikan tarian ini meski terdapat juga sebuah Tari Pakarena khusus laki-laki, Pakarena Bura’ne namanya.

Setidaknya itulah sedikit yang bisa saya dan teman saya, Bloomy, dapatkan dalam setahun terakhir berjalan-berjalan lalu berkenalan dengan beberapa orang mencari tahu tentang Pakarena ini. Kami berdua, khususnya dia, begitu jatuh cinta dengan Tari Pakarena hingga akhirnya memutuskan membuat sebuah feature dokumenter untuk mengabadikan Tarian ini. Silakan melihat Trailer Pakarena yang kami buat tahun lalu di sini, Pakarena.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s