Catatan di Toraja


Laki-laki membentuk lingkaran sambil menari dan bernyanyi.

Laki-laki membentuk lingkaran sambil menari dan bernyanyi.

Beberapa lelaki melantunkan doa-doa.

Beberapa lelaki melantunkan doa-doa.

Menyanyikan doa-doa dalam bahasa Toraja

Menyanyikan doa-doa dalam bahasa Toraja

Suasana di rumah adat di area upacara Rambu Solo' berlangsung. Di sinilah para tamu dijamu.

Suasana di rumah adat di area upacara Rambu Solo’ berlangsung. Di sinilah para tamu dijamu.

Mengantar tamu keluar dari area upacara Rambu Solo'

Mengantar tamu keluar dari area upacara Rambu Solo’

Mengantar tamu memasuki upacara Rambu Solo'.

Mengantar tamu memasuki upacara Rambu Solo’.

Seorang pria menjaga "Balun" (peti mati) di "La'kian" (rumah menyimpan mayat)

Seorang pria menjaga “Balun” (peti mati) di “La’kian” (rumah menyimpan mayat)

Tedong Bonga atau Kerbau Belang. Harganya bisa mencapai ratusan juta per-ekornya.

Tedong Bonga atau Kerbau Belang. Harganya bisa mencapai ratusan juta per-ekornya.

Kerbau yang disembelih untuk kemudian dihidangkan kepada tamu yang datang.

Kerbau yang disembelih untuk kemudian dihidangkan kepada tamu yang datang.

Untuk mengupas kulit babi pada jaman sekarang orang Toraja menggunakan api.

Untuk mengupas kulit babi pada jaman sekarang orang Toraja menggunakan api.

Ini adalah aktifitas membuat Pa'piong atau nasi bambu. Beras yang dimasak dengan daging babi, kerbau atau ayam.

Ini adalah aktifitas membuat Pa’piong atau nasi bambu. Beras yang dimasak dengan daging babi, kerbau atau ayam.

Dua orang anak ini mengenakan pakaian adat Toraja yang disebut Seppa Tallung.

Dua orang anak ini mengenakan pakaian adat Toraja yang disebut Seppa Tallung.

Kalangan Bangsawan biasanya menempati bukit paling tinggi untuk dimakamkan. Pemahat dari Toraja membuat patung yang menyerupai wajah orang yang meninggal.

Kalangan Bangsawan biasanya menempati bukit paling tinggi untuk dimakamkan. Pemahat dari Toraja membuat patung yang menyerupai wajah orang yang meninggal.

Salah satu souvenir yang bisa dibeli dan dibawa pulang dari Toraja.

Salah satu souvenir yang bisa dibeli dan dibawa pulang dari Toraja.

Nenek Sa'dan sedang mendampingi seorang wisatawan mencoba alat pintal benang yang telah dia gunakan bertahun-tahun.

Nenek Sa’dan sedang mendampingi seorang wisatawan mencoba alat pintal benang yang telah dia gunakan bertahun-tahun.

Pemandangan yang lumrah.

Pemandangan yang lumrah.

Berkunjung lagi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia untuk kesekian kalinya tak lantas membuat saya cukup paham mengapa Agama dan Adat Istiadat bisa berjalan beriringan di sini. Suku yang mendiami wilayah ini merupakan salah satu dari suku tertua di Indonesia yang dikategorikan sebagai suku bangsa Proto Malayan (Melayu Tua), gaya hidup mereka dikenal dengan nama Austronesia.

Konon, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari Nirwana. Tapi, menurut penelitian dari DR. C. Cyrut yang merupakan seorang antropolog menuturkan kalau masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk (pribumi) yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang kebanyakan adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Cina).

Istilah “Toraja” menurut dari cerita Bugis diberikan oleh suku Bugis Sidendreng dari Luwu setelah mereka menyadari ada suatu penduduk yang bermukim di sekitar pegunungan yang memiliki peradaban yang berkembang lebih lama dari kehadiran suku Bugis di wilayah ini. “To Riaja” yang berarti “Orang yang berdiam di negeri atas”, begitu Bugis menyebut mereka pada awalnya.

Kepercayaan orang Toraja kepada orang yang sudah meninggal sebelum keluarga membuatkan upacara “penguburan” hanya dianggap sebagai orang “sakit” atau “lemah” saja. Itulah kenapa jasad tetap dibaringkan di tempat tidurnya dan diperlakukan layaknya orang yang masih hidup. Mereka tetap menghidangkan makan dan minum, menyiapkan sirih pinang dan bahkan mengajaknya berbicara.

Rambu Solo’ atau upacara “penguburan” orang mati di Toraja bisa berlangsung sangat meriah dan berhari-hari bahkan berminggu-minggu, tergantung strata sosialnya. Sebelum mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhir, serangkaian acara dalam pesta Rambu Solo’ akan digelar lebih dulu. Seperti Ma’badong atau menyanyikan doa-doa yang dilakukan oleh beberapa pria membentuk lingkaran sambil memegang tangan satu sama lain. Jenazah dibaringkan di dalam peti mati bernama “Balun” dan ditaruh di “La’kian” atau rumah menyimpan mayat. Beberapa orang mengenakan pakaian yang diberi nama Pokko’ (untuk wanita) dan Seppa Tallung (untuk pria) terlihat berbaris rapi menjemput tamu dan mengantar tamu (Ma’randing) dari dan keluar area upacara.

Setelah semua rangkaian acara penghormatan terakhir kepada jasad selesai, mulailah jasad tersebut digotong bersama-sama menuju ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Tidak dikuburkan, jasad hanya ditaruh di tempat tinggi di atas tebing berbatu. Menurut kepercayaan Aluk To Dolo atau kepercayaan yang dianut oleh orang Toraja sebelum Islam dan Nasrani masuk ke wilayah ini mengatakan semakin tinggi tempat jenazah tersebut di simpan maka semakin cepat pula rohnya sampai ke nirwana.

Orang Toraja percaya bahwa setelah meninggal, arwah seseorang akan menempuh perjalanan ke PUYA. Puya adalah nama sebuah daerah di wilayah selatan Tana Toraja, di sanalah para arwah berada yang kemudian pada suatu waktu nanti akan bertransformasi menjadi setingkat dewa dan berdiam di langit. Orang Toraja menyebutnya To Mebali Puang.

Tiap-tiap rangkaian acara pada upacara Rambu Solo’ bisa berbeda-beda, tergantung strata sosial. Jika termasuk keluarga bangsawan maka jumlah kerbau yang dikorbankan bisa berkisar dari 24 hingga 100 ekor kerbau. Tapi, kalau hanya dari golongan menengah diharuskan meyembelih sedikitnya 8 ekor kerbau ditambah dengan 50 ekor babi. Jika belum mampu memenuhi jumlah yang harus dikorbankan untuk upacara penguburan maka upacara penguburan boleh ditunda hingga keluarga almarhum mampu memenuhinya. Itu sebabnya jenazah bisa tersimpan selama bertahun-tahun di dalam rumah.

Karena harga kerbau di Tana Toraja bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah, maka biasanya keluarga memakai sistem sumbangan yang ditebus nanti ketika keluarga yang pernah menyumbang untuknya ingin membuat acara pemakaman juga dan harus sama banyaknya dengan harga sumbangan sebelumnya. Sistem ini dipakai untuk menjaga tali silaturahim di antara orang-orang Toraja.

Keunikan di Tana Toraja ini membuat Toraja dikunjungi banyak wisatawan dari dalam dan luar negeri. Waktu-waktu yang baik untuk berkunjung di Tana Toraja sebenarnya bisa kapan saja. Tapi, sekitar bulan Juli dan Desember biasanya beberapa upacara adat besar dilangsungkan. Selain upacara adat tentang pemakaman, Toraja memiliki kain tenunan dan hasil pahatan patung kayu yang telah cukup dikenal di kalangan wisatawan asing.

Tana Toraja, 30 Mei 2014.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s