Living at The Coastal Side part 2


Sejak mulai bersengketa dengan mafia-mafia tanah pada tahun 2010 hingga menemui puncak kekisruhan di tahun 2013, sebuah kawasan yang terletak di pesisir utara Kota Makassar ini perlahan menata diri mereka kembali setelah harus pasrah dengan keadaan. Di sini saya menyaksikan keceriaan anak-anak Kampung Buloa setelah para orang dewasa akhirnya mencapai kesepakatan akan tempat tinggal dan halaman bermain buat mereka.

Selamat Datang.

Selamat Datang.

Tiap pagi dan sore hari mereka menghabiskan waktu di dermaga ini.

Tiap pagi dan sore hari mereka menghabiskan waktu di dermaga ini.

Beberapa anak-anak ini berenang tanpa sepengetahuan orang tua mereka. Jika pulang dalam keadaan baju mereka basah, akan dihukum.

Beberapa anak-anak ini berenang tanpa sepengetahuan orang tua mereka. Jika pulang dalam keadaan baju mereka basah, akan dihukum.

Anak-anak Buloa.

Anak-anak Buloa.

Membersihkan perahu.

Membersihkan perahu.

Anak-anak Buloa

Anak-anak Buloa

Bocah Buloa.

Bocah Buloa.

Main perahu dari gabus bekas yang dibungkus karung.

Main perahu dari gabus bekas yang dibungkus karung.

Di beberapa tempat mereka bermain dipenuhi oleh sampah karena sudah lama mereka tak punya tempat untuk membuang sampah.

Di beberapa tempat mereka bermain dipenuhi oleh sampah karena sudah lama mereka tak ada tempat sampah umum.

Nirma, dia dan seluruh keluarganya adalah korban penggusuran.

Nirma dan seluruh keluarganya adalah korban penggusuran.

Bocah Buloa.

Bocah Buloa.

Suatu pagi yang sendu.

Suatu pagi yang sendu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s