The Island of Coco


Bapak Ato, karena tidak punya uang untuk membeli kacamata renang yang bagus, maka dia membuatnya. Saya bertemu dengan dia di Perkampungan Tua Bitombang.

Bapak Ato, karena tidak punya uang untuk membeli kacamata renang yang bagus, maka dia membuatnya. Saya bertemu dengan dia di Perkampungan Tua Bitombang.

Saya lupa namanya, tapi lelaki baik ini mentraktir saya segelas kopi.

Saya lupa namanya, tapi lelaki baik ini mentraktir saya segelas kopi.

Warung Kopi yang terletak di tengah pasar Kepulauan Selayar juga menjual sesuatu yang bukan kopi.

Warung Kopi yang terletak di tengah pasar Kepulauan Selayar juga menjual sesuatu yang bukan kopi.

Kehidupan Masyarakat di desa Nelayan Padang. Seseorang sedang membuat atap dari bambu yang dibelah-belah kemudian ditutupi dengan daun kelapa.

Kehidupan Masyarakat di desa Nelayan Padang. Seseorang sedang membuat atap dari bambu yang dibelah-belah kemudian ditutupi dengan daun kelapa.

Tukik

Tukik

Tukik

Tukik

Pantai pusat penangkaran Penyu.

Pantai pusat penangkaran Penyu.

Pulau Gusung Timur

Pulau Gusung Timur. Moda transportasi yang digunakan untuk mengunjungi pulau-pulau yang berdekatan.

Pulau Gusung Timur

Pulau Gusung Timur. Jaraknya 30 menit dari pusat Kota Selayar menggunakan Perahu Jolloro’.

Pulau Gusung Timur

Pulau Gusung Timur. Selain untuk dibuat Kopra, orang-orang dulu memakai Pohon Kelapa sebagai mahar untuk pernikahan.

Pulau Gusung Timur

Pulau Gusung Timur

Kehidupan masyarakat di beberapa pulau di sekitar Kepulauan Selayar adalah Nelayan tentunya.

Ibu Bau Hawa, memperbaiki jala yang biasa dipakai suaminya untuk menangkap Ikan.

Perahu Jolloro' salah satu alternatif transportasi untuk berkeliling pulau Selayar.

Perahu Jolloro’ salah satu alternatif transportasi untuk berkeliling pulau Selayar.

Perjalanan ke Pulau Liang Kareta

Perjalanan ke Pulau Liang Kareta

Pulau Liang Kareta

Pulau Liang Kareta

Pulau Liang Kareta

Pulau Liang Kareta

Pulau Liang Kareta

Pulau Liang Kareta. Sekitar 2 jam perjalanan dari Pusat Kota Selayar.

Objek wisata tentu tidak lepas dengan yang namanya Sampah.

Objek wisata tentu tidak lepas dengan yang namanya Sampah.

Selasa sore, 26 november, saya akhirnya tiba di Selayar walau ketinggalan bus yang telah disediakan panitia perjalanan karena telat bangun pagi. Kutelpon seorang kawanku yang katanya akan menuju Selayar juga menggunakan mobil pribadi untuk kutumpangi hingga ke Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Ini merupakan pengalaman pertama saya mencoba transportasi laut di mana cuaca tidak terlalu mendukung bagi penakut seperti saya ini. Katanya, ini adalah musim angin barat di mana ombak tidak begitu terlalu tenang.

3 jam lamanya kapal yang saya tumpangi “menari-nari” di laut. Membuat “pemula” seperti saya cemas. Saya memandangi lemari yang berisi jaket pelampung yang ada di dalam kapal dan mencoba menghayati lagu-lagu religi yang dimainkan di pengeras suara kapal. Entah apa maksudnya.

Tepat jam 5 sore, saya tiba di Pelabuhan Pamatata, Kabupaten Kepulauan Selayar, dengan perasaan riang gembira karena ketemu dengan daratan. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menumpang mobil bus menuju kota Benteng untuk bertemu dengan beberapa orang yang akan mengatur penginapan dan transportasi selama 3 hari di sini. Jaraknya sekitar 1 jam dari pelabuhan.

Esoknya, tur berkeliling Selayar hari pertama dimulai. Saya dan beberapa peserta tur diajak ke beberapa tempat yang menjadi objek utama wisata darat Kepulauan Selayar. Dimulai dari Perkampungan Tua Bitombang, Perkampungan Nelayan Padang, tempat peninggalan benda bersejarah Gong Nekara dan Jangkar Raksasa hingga ke tempat penangkaran Tukik Penyu. Bagi yang ingin ikut membantu tempat penangkaran Penyu yang dikelola swasta ini setidaknya kalian harus menyumbang Rp. 25.000 untuk melepas Tukik Penyu ke Laut.

Tur hari ke-dua dilanjutkan dengan kapal jolloro’ (kapal kecil). Karena kami diajak untuk menikmati pulau-pulau di sekitar kepulauan selayar. Dimulai dari Pulau wisata terdekat, Pulau Gusung Timur hingga ke Pulau Liang Kareta. Tentu saja sepanjang perjalanan ini menyajikan begitu banyak pemandangan yang bagus, terlepas dari rasa takut saya dengan laut.

Beberapa macam rangkaian acara telah disiapkan panitia penyelenggara untuk menghibur peserta tur Takabonerate Expedition 2013 ini. Bahkan disiapkan tarian tradisional di Pinggir Pantai Pulau Gusung Timur. Saya lupa memotretnya karena saya sibuk menikmatinya.

Setelah makan siang, rombongan menuju Pulau Liang Kareta. Pulau dengan pemandangan bawah laut yang indah. Tidak kalah bagus dengan Pulau Takabonerate yang sudah terkenal itu. Sayang, sekitar Pulau ini begitu banyak sampah juga beling dari pecahan botol minuman. Saya tidak begitu heran dengan hal ini, sebab kebanyakan tempat wisata di Indonesia memiliki wajah yang serupa. Atau barangkali karena Pulau ini tidak begitu terkenal hingga dibiarkan saja begitu.

Beberapa orang pemerintahan yang menemani kami mengaku telah membersihkan sampah-sampah itu, tapi rata-rata sampah yang ada di Selayar adalah sampah kiriman dari Kabupaten-Kabupaten terdekat dari Selayar. Semoga itu bukan bercandaan. Haha!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s