Semoga Kita tak Lupa


Selama tiga bulan terakhir sejak Juli hingga awal September ini saya disibukkan dengan beberapa hal yang membuat saya jarang berinteraksi dengan teman-teman baik saya. Ritual minum kopi sore kami terhenti sejenak. Pada akhir juli hingga akhir Agustus saya harus berada di luar Sulawesi Selatan menemani seorang penulis mencari bahan untuk buku barunya.

    Setelah pekerjaan saya berakhir tepat 4 hari sebelum Lebaran Idul Fitri, saya kembali ke Makassar dan melanjutkan pekerjaan yang saya tinggalkan sebulan lamanya. Yaitu mendokumentasikan program beasiswa seni budaya Indonesia dari Kementrian Luar Negeri yang bekerjasama dengan Rumata’ Artspace, sebuah rumah budaya di Makassar.

Program Beasiswa Seni Budaya dari Kemenlu ini adalah program tahunan pemerintah Indonesia dengan beberapa negara-negara yang mendatangkan mahasiswa-mahasiswi dari negara asing tersebut untuk belajar kebudayaan dari Indonesia. Mulai dari menari, membatik, memahat, kerajinan tangan dan lainnya tentang Indonesia. Makassar kebagian 11 mahasiswa yang berasal dari Korea Selatan, Kazakhstan, Prancis, Jepang, Norwegia, Myanmar, Vietnam, Filipina, Indonesia, Papua Nugini, dan Singapura.

Selama tiga bulan di Makassar, mereka fokus belajar segala hal tentang kebudayaan Sulawesi Selatan terutama menari dan bermain musik tradisional. Mereka mempelajari itu semua dari Senin-Jumat di salah satu sanggar yang terletak di jalan Daeng Tata, Sanggar Batara Gowa, namanya. Dan, selama 2 bulan lebihpun saya banyak menghabiskan waktu di sanggar tersebut. Walau tidak setiap hari.

Program belajar Seni Budaya Indonesia dari pemerintah kita ini sebenarnya positif. Tapi, apa tidak ada program serupa yang lebih melibatkan anak bangsa sendiri? Pesertanya mahasiswa-mahasiswi dari seluruh penjuru Indonesia ditukar-tukar ke berbagai provinsi di tanah air. Barangkali program yang saya maksud sudah ada tapi promosinya belum terlalu baik atau saya yang memang tidak mau peduli sebelumnya.

Saya kagum melihat 11 pemuda-pemudi yang usianya hampir seusia saya di minggu-minggu terakhir mereka latihan menari, bernyanyi dan bermain musik. Ternyata untuk menguasai beberapa tarian, lagu serta memainkan alat musik tradisional tidak memakan waktu yang cukup lama. Meskipun memang masih ada kekurangan di sana-sini. Tapi, itu cukup membuat saya merasa terharu sebab tak ada satupun dari mereka yang punya pengetahuan dasar tentang kebudayaan bugis-makassar tapi ternyata mereka bisa.

Sungguh saya malu dengan mereka ketika ditanya kenapa sanggar ini begitu sepi. Hanya ada anak-anak kecil yang bermain dan berlarian kesana-kemari. Itupun karena rumah anak-anak ini dekat dari sanggar ini. Serta Bapak Basri yang mengijinkan anak-anak ini menyentuh dan bermain dengan alat musik tradisional milik sanggar ini.

Makassar, 10-09-2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s